I WAS BORN IN THE WRONG COUNTRY!!

Sejak kecil gue memiliki imajinasi yang terkadang berlebihan.Well, tidak seberlebihan JK. Rowling sih sampai bisa menciptakan Harry Potter. But yeah... kalau dipikir-pikir memang sepertinya di atas rata-rata. 
Contohnya nih, pas gue lagi duduk-duduk dengerin musik salah satu boyband favorit (sebut saja Seventeen), gue suka membayangkan diri gue dan salah satu personil boyband tersebut bertemu seperti dalam drama-drama korea. Itu loh adegan dimana si cewek (biasanya jelek) bertemu dengan cowok yang cakepnya selangit (biasanya pewaris perusahaan sekelas SM Entertainment) gara-gara tabrakan nggak jelas dan tiba-tiba saja semua buku yang dia bawa terjatuh ke lantai, dan adegan selanjutnya gue yakin lo udah bisa tebak. Intinya gue nggak pernah membayangkan adengan film India yang kejar-kejaran di tengah hujan sambil nyanyi-nyanyi.

Mungkin gara-gara keseringan nonton drama sedari SD mengakibatkan imajinasi gue yang suka liar kemana-mana. Pertama kalinya gue nonton drama korea  Endless Love dan Jewel in the Palace yang setiap sorenya tayang di salah satu stasiun TV. Kalo nggak salah waktu itu cowok-cowok koreanya belum terlalu cantik, (nggak kayak sekarang ini) tapi cukuplah untuk membuat gue klepek-klepek setengah mati. Oiya, kalau diingat-ingat lagi, gue nggak suka drama yang sad ending seperti Endless Love ini, soalnya suka melukai keindahan imajinasi gue which is harus happy ending ala-ala Go Jun Pyo dan Geum Jan Di (ini mungkin penulisan namanya salah. #yaudahlahyaw). Drama yang seperti inilah yang memenuhi imajinasi setiap cewek jelek, miskin (hiduplagi...) bahwa dunia ini penuh kebahagiaan dimana cewek-cewek jenis inilah yang berhak memenangkan hati seorang cowok cakep dengan uang segabrekk, mungkin karena efek pelet. Walaupun sekali lagi kenyataan tak seindah hayalan. Kalian pernah mikir nggak sih, justru drama seperti ini yang meracuni pikiran remaja jaman sekarang #ea. karena tokoh si cewek-cewek dalam drama ala-ala Bella Cullen yang tak bisa apa-apa, pintar juga nggak, kaya nggak, nggak bisa apa-apa, modal cantik doang tapi jadi rebutan seorang Jacob dan Edward, padahal masih banyak cewek yang lebih cantik dari Bella di SMAnya.

Gue nggak sudi mengingat kenangan gue selama duduk di bangku SMP sampai SMA. It's a dark memory (numpang curhat). Hal ini menyadarkan gue kalau drama-drama seperti itu sangat tidak realistis dan akhirnya gue pun terkecewakan dengan kenyataan yang ada. But still, i love happy ending  dan bahkan sampai sekarangpun gue percaya cerita hidup gue bakalan happy ending nantinya, dimana gue mungkin akan menikahi Joshua dari Seventeen dan happily ever after #ngarepnyaoverdosis.

Pada zaman dahulu kala, jauh sebelum Korea menguasai jiwa dan raga, gue juga tergila-gila dengan si cowok berkacamata yang terlahir sangat beruntung yang kemudian bersekolah di sekolah sihir ternama, sebut saja Harry Potter. Natal merupakan momen yang gue tunggu-tunggu, berhubung karena biasanya film ini ditayangkan pas bulan Desember berlatarkan suasana dingin ditengah salju. Jadilah imajinasi gue lagi-lagi membayangkan hujan di bulan Desember itu sebagai salju. Saking tersihirnya, gue bisa nonton serial ini berkali-kali sampai-sampai nggak butuh subtitle karena sudah hafal dengan jalan ceritanya. Tapi kemudian semua itu berubah setelah negara Korea menyerang.

Akhir-akhir ini gue lagi tergila-gila sama boyband bernama Seventeen terutama Joshua dan Jeonghan. Dan yah, seperti yang gue jelaskan di awal paragraf bahwa imajinasi gue ini bisa sangat liar dan menggila, jadilah si Jo (#sokakrab) ini yang menjadi tokoh utama dari imajinasi gue. Alasan gue suka sama Jo ini adalah karena doi memiliki senyum yang dapat mengalihkan dunia para fans baik cewek maupun cowok dan termasuk gue, plus suaranya yang.. ah sudahlah. mungkin karena suaranya, atau lebih ke looknya yang gue suka sampai gue harus tersesat semakin jauh ke dunia perkoreaan ini. Saking tersesatnya, gue bahkan sempat protes ke Tuhan. Kenapa dari sekian ratus negara di dunia ini, gue lahir di Indonesia? yang notabene cuman punya musim hujan dan musim kemarau. Alhasil, gue yang salah lahir ini pun tidak bisa menikmati indahnya bunga sakura di musim semi, atau indahnya daun yang diterbangkan angin musim gugur, dan kusyuknya white christmas? (Maafkan hamba ya Allah, beruntung juga nggak lahir di negara perang). Akibat obsesi gue yang berlebihan, statement i was born in the wrong country, ini pun semakin terngiang-ngiang dan mengkonsumsi akal sehat gue yang mudah rapuh. Otak gue pun dipenuhi kata 'SEANDAINYA' yang selalu menggentayangi keseharian gue. Seandainya gue terlahir di Korea, mungkin gue bisa kerja di perusahaannya Om Lee So Man, atau bisa jadi asistennya Seventeen (mimpitingkattinggi), seandainya nanti gue ke Korea, gue bakal ngemil salju sampai bosan, seandainya gue punya gaji setara manajer, gue mungkin bisa ke luar negeri seenaknya, seandainya... seandainya....

apakah ini tandanya gue kurang bersyukur? pikirku sambil mengunyah Samyang yang katanya akan segera ditarik dari peredaran.

THE END





3 komentar: