a note to myself


Aku mungkin memilih menjadi dirimu sejak awal, atau justru dipilihkan semesta. Sampai aku berhayal, kenapa tidak memilih lahir jadi anak anggota DPR ya, kan enak jalan-jalan ke luar negeri pakai uang negara. Tapi toh, pada akhirnya aku lahir sebagai dirimu. Manusia keras kepala dengan mimpi segudang yang kadang tidak realistis.

Membahas mimpi denganmu selalu membuat melankolis. Seperti air mata yang enggan menetes, kaupun enggan berterus terang. Katamu mimpimu itu terlalu mengawang-ngawang, terlalu memalukan jika orang lain tahu. Semustahil apapun itu,tapi selalu ada cara menggapainya. Itu yang kusukai darimu, manusia egois keras kepala yang optimis.

Tapi mengapa akhir-akhir ini kau selalu terlihat murung. Bahkan tak jarang diam-diam meneteskan air mata. Suatu hal yang dulu sering kita tertawakan. Bukankah dulu kau bilang air matamu sepertinya sudah tidak diproduksi lagi?

Apakah akhir-akhir ini realita menghantammu dengan sangat keras? ataukah seperti yang selalu kau katakan, ekspektasimulah yang perlahan membunuhmu diam-diam. SUDAHLAH, bukankah sudah saatnya berhenti menjadi orang yang selalu berusaha menyenangkan semua orang?

Kau pasti lelah kan? kapan terakhir kali kau jalan-jalan tidak jelas di mall, makan eskrim atau sekedar keliling di toko buku?

28 tahun bukan waktu yang singkat. Jika menanam pohon durian, mungkin sekarang buahnya sudah bisa dipanen dan dibagikan ke tetangga. Harusnya ini waktu yang cukup dong untuk belajar ini itu.

akan ada suatu momen dimana segala sesuatunya menjadi buram. suatu momen dimana kamu akan berharap bisa melihat masa depan lagi dengan jelas. berharap kamu bisa jadi dirimu yang dulu yang tahu pasti akan kemana, dan jika sedang tersesat akan selalu ada orang-orang yang menerima, akan ada rumah untuk kembali.

haha, lucu sekali. sejak kapan kamu punya rumah?

akan ada suatu momen dimana semua yang terlihat jelas, menghilang. dimana kamu harus memulai dari awal meraba-raba. Kemana? Bagaimana?

aku tahu akan ada suatu momen ketika harapan itu hanya terdengar seperti mitos.

tapi aku mau kamu tahu, ketika momen itu datang, percayalah kamu tidak sendiri. Percayalah selalu ada rumah, selalu ada orang-orang baik yang akan mengulurkan tangan dan memberi terang. Tidak mudah memang. Kehilangan kepercayaan kepada segala hal itu wajar. Kecewa itu wajar, marah juga. Bersedihlah secukupnya. Jangan biarkan air mata membuat jalanmu buram.

aku juga tahu, terkadang kamu merasa sendiri. takut mengeluarkan suara karena takut tidak ada yang mendengar. Selalu menjadi pendengar tidak salah kok. Tidak selamanya kamu akan berada di sudut remang-remang suatu pesta. Lagi-lagi aku ingin mengingatkan, akan ada waktu nanti untuk lampu sorotmu.

Ingatlah, jika beban di pundakmu tak lagi tertahankan, lepaskan satu-satu. Beristirahatlah, karena esok kamu harus lebih kuat.

Bukankah kita sepakat, hidup ini seperti buku dan kitalah penulisnya. Semua yang terjadi adalah buah dari keputusan-keputusan kita di masa lalu, keputusanmu! Tidak ada yang salah. Semua hanya memberi warna untuk ceritamu, apakah itu konyol, sedih, tolol, atau kecewa. Semuanya akan indah karena merekalah pondasi dari buku langkah ini.




0 komentar:

i love you

I let you go because I think I'm obsessed with you.

I let you go because my love is so strong that it can destroy you.

 

I let you go, go where ever you want. Hope one day you'll feel what I feel. This loneliness


You said I'm toxic when I'm alone, Baby, whose fault is it?  you make me feel lonely while you're busy chasing the void

You said I'm toxic, baby my love is poisonous you better run.


I let you go because you don't love me more than PS5 



0 komentar: