Si Tukang Sayur

Tukang sayur, orang yang selalu dinantikan ibu-ibu di kampung kami. Dia tak tampan tak juga rupawan apalagi bergelimang harta, begitu kira-kira lirik lagu menggambarkannya. Justru karena demi mencari sebongkah berlian, si tukang sayur mondar-mandir di jalanan dan perempatan kampung kami.
Beberapa bulan lalu, ia bukan seseorang yang dikenal di kampung sini. Bapak-bapak kurang kerjaan di kedai tuak sering menjadikannya bahan lelucon. ‘Kapan kayanya, jualan sayur begitu setiap hari pun tidak akan menghasilkan duit’ komentar salah satu dari mereka yang disusul tawa cemooh yang lainnya.
  “Iya, mana mungkin kita membeli sayur yang sudah layu itu sementara kita bisa mengambil yang masih segar dari kebun sendiri” kata mereka.
Kami orang desa, jiwa sosial dan kesenangan dalam berbagi masih bisa ditemukan dalam masyarakat kami. Bahkan oleh orang tuaku, memanggil para tetangga untuk menikmati sedikit sayur yang dimasak pagi tadi adalah sebuah kewajaran. Meski untuk makan siang tak cukup, kami diajarkan untuk tetap bahagia dalam kebersamaan. Toh, masih bisa dimasak lagi. Sama halnya dengan memanen sayur dari kebun atau pekarangan rumah bersama ibu-ibu lainnya. Tak perlulah khawatir akan makan apa hari ini. Jika sudah bosan makan terong, masih bisa menikmati sayur daun ubi dari kebun tetangga. 
Si tukang sayur yang malang mondar-mandir dengan gerobak sayurnya, belum lagi suaranya yang sedikit mengganggu kala memanggil pelanggan. Beberapa hari ia mencoba peruntungannya di kampung kami. Tak ada yang membeli. Sayurnya pun layu sia-sia. 
Suatu hari si tukang sayur menyerah memikat hati ibu-ibu yang tak kunjung membeli barang dagangannya. Dengan pasrah ia memperhatikan masyarakat setempat. Kemana bapak-bapak di kampung ini? Justru yang pagi-pagi beraktivitas adalah ibu-ibu dan anak sekolah. 
Dengan rasa penasaran, si tukang sayur menanyakan kemana bapak-bapak di kampung ini. Sedari tadi ia duduk memperhatikan jalanan, hanya ada satu dua lelaki yang lewat.
“Masih tidur” jawab seorang ibu dari kelompok itu. 
“Ah, kau enak. Punya suami pelayaran, banyak duit. Harusnya sekarang ini kau membangun rumah di kota” seru seorang ibu dengan badan besar berdaster motif kembang. 
Kelompok ibu-ibu itu mulai berceloteh. Mengomentari suami masing-masing. Ada yang suaminya pulang sekali setahun demi mencari nafkah. Ada juga yang masih tidur karena pengangguran dan hanya mengharapkan duit kiriman anaknya yang pergi merantau. Si tukang sayur hanya menyimak.
Keesokan harinya, ia kembali lagi ke kampung kami. Membawa gerobak sayurnya lengkap dengan kertas karton bertuliskan daftar harga sayurnya yang bisa dikatakan sangat murah. Jika dipikir-pikir, ia sangat berani berdagang dengan harga yang terjun bebas seperti itu. Ini bukan lagi berdagang, tapi beramal, pikirku sambil menyeruput secangkir kopi panas di teras rumah.
Tatapan aneh dengan sorot penasaran tampak jelas di mata orang-orang yang lewat di persimpangan itu. Apakah itu semacam mantera? Ah tidak mungkin, meski orang kampung aku tahu betul itu adalah strategi pemasaran si tukang sayur persis seperti yang dituliskan dalam buku yang beberapa hari lalu kubaca di perpustakaan sekolah. 
Cerdas juga dia, pikirku.
Tidak lama berselang, seorang ibu menghampiri si tukang sayur. Bercakap-cakap sebentar, mungkin juga menawar. Lalu pergi membawa sekantong penuh berisi sayur. Orang-orang yang berpapasan dengan ibu tadi heran, mengapa membeli sayur padahal bisa memetiknya sendiri di pekarangan. Tidak bisa kupastikan apa jawabannya. Ibu itu seperti menghipnotis ibu-ibu lainnya di sekitar perempatan. Ada pula yang menjadikannya bahan pergunjingan. Seorang yang membawa sekantong penuh berisi sayuran itu kini menjadi selebriti di kampung kami -menuai kontroversi 
Keesokan harinya, Si ibu yang kemarin membeli sekantong penuh sayur datang lagi menghampiri si tukang sayur. Kali ini ia membawa keranjang ukuran sedang. Rupanya ia ingin membeli lebih banyak dari kemarin. 
“Persiapan untuk makan malam” katanya pada si tukang sayur.
Tak lama kemudian, 3 ibu lainnya datang dengan tatapan penasaran. Seseorang di antaranya mulai bercakap-cakap dengan si tukang sayur. Tak jelas juga apa yang mereka perbincangkan.
 “Mana bisa kaya, jualan dengan harga semurah itu” Komentar bapak-bapak yang sepertinya sedang menikmati udara pagi sambil memperhatikan selebriti baru di kampung kami, si tukang sayur.
“Baguslah harganya murah, jadi ibu-ibu tidak perlu pusing lagi ingin masak apa. Para suami pun tidak perlu khawatir mau makan apa, bahkan anak-anak kita tidak akan mengeluh lagi karena menu yang itu-itu saja” Balas seorang ibu yang sepertinya fans berat si tukang sayur.
Masuk akal juga, pikir ibu lainnya yang hendar mencari sayur untuk dimasak makan siang anaknya. Bukan hanya dia yang berpikir demikian, buktinya setiap hari dagangan si tukang sayur laku keras. Ia menjadi perbincangan di kampung kami. Bapak-bapak yang awalnya mencemooh, sekarang balik mendukung si tukang sayur. Berkatnya mereka tidak lagi harus memakan sayur daun ubi atau terong rebus, menu yang sama dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya. Berkatnya ada banyak pilihan makanan yang dinantikan anak-anak sepulang sekolah. Ikan goreng, sambal tempe, tumis kangkung sampai kombinasi ketiganya sekarang tersedia di meja makan menyambut mereka yang mulai kelaparan. 
Si tukang sayur datang setiap pagi. Menunggu ibu-ibu di perempatan yang sama. Dagangannya laku keras dan habis terjual. Kini ia tak hanya menjual sayur dan bumbu dapur, ia juga membawa ikan dan tempe dari kota. Ia tanpa sadar memperkenalkan kebutuhan baru pada masyarakat di kampung kami. Mereka yang awalnya masak dengan bumbu sederhana sekarang mulai mencari-cari merica, ketumbar, daun bawang, daun jeruk dan rempah lainnya. Bahkan kemarin ada yang membeli biji pala tanpa tau digunakan untuk memasak apa. 
Membeli sayur sekarang merupakan aktivitas yang dinanti-nanti oleh masyarakat di kampung kami. Kadang menjadi ajang bertukar gossip, kadang pula menjadi ajang pamer siapa yang terlihat ‘MAMPU’ membeli sayur paling banyak. Harga yang naik pun tidak jadi masalah. Semakin hari, dagangan si tukang sayur semakin laris saja. Belum jam 9 pagi, semua sayurnya sudah di borong ibu-ibu.  Siapa cepat, dia dapat. Dan dari teras rumahku kuperhatikan sambil menyeruput kopi hitam hasil kebun kami. 
Ada yang menarik dari adegan di bawah perempatan jalan itu. Si tukang sayur tak lagi membawa property kesayangannya. Konon kabarnya, harga sayurnya semakin mahal saja. Ada yang bilang itu disesuaikan dengan kenaikan BBM. 
Perlahan ada yang mulai kurindukan di kampung kami. Sekarang tak ada lagi tawa kecil di kebun belakang rumah dari ibu-ibu yang datang hendak memetik sayur. Kebersamaan yang dulu kami pupuk perlahan runtuh digantikan dengan acara nongkrong bersama si tukang sayur. Nampaknya si tukang sayur telah menciptakan gaya hidup baru di kampung kami. Tak ada lagi tawaran makan siang gratis dari tetangga atau sebaliknya. Ah, bagaimana bisa saya mengharapkan makan siang gratis, toh mereka harus keluar uang demi membeli sayur dan ikan. Bisa rugi kan kalau menampung tetangga lain untuk makan bersama. 
Beberapa hari ini si tukang sayur selalu datang telat. Seorang ibu tampak duduk bermalas-malasan di teras rumahnya dengan dalih sedang menunggu si tukang sayur. Anaknya yang masih kelas 1 SD mulai gelisah karena lapar. Menu 4 sehat hampir sempurna di atas meja seperti kemarin-kemarin kini tak ada lagi. Ia kemudian meminta uang kepada ibunya untuk membeli mie instan. 
Ah, sepertinya aku harus membeli mie instan karena ibu tidak masa apa-apa siang ini. 
“Kemana ya si tukang sayur” diam-diam aku juga mulai menunggu kedatangannya.
Meski demikian, telatnya si tukang sayur tidak membuat ibu-ibu di kampung kami murkah. Mereka justru bersyukur, menunggu si tukang sayur adalah alasan yang sempurna untuk duduk bersantai dan bergosip. Berkatnya warung-warung yang menjual telur dan mie instan pun terbantu. Jika tak sabar menunggu, jalan cepatnya adalah ke warung. Sepertinya roda bisnis di kampungku sedikit demi sedikit mulai berputar berkat si tukang sayur.
PS : Cerpen ini ditulis jam 3 subuh menjelang tahun baru 2019, oh i mean sudah tahun baru hehehee waktu itu ditulisnya karena ada lomba penulisan cerpen tapi justru tidak diikutsertakan, niatnya lagi mau kirim ke website berbayar tapi.. ah sudahlah, dipublish disini ajalah

What Now?

This is July 16th 2019

Hi, welcome to my blog!
Disini gue bakalan nulis tentang semua shit toughts biar nggak terlalu stres.




So, hari ini tiba-tiba aja kepikiran tentang masa depan. Apa yang akan gue lakukan 5 tahun dari sekarang atau lebih ke short termnya apa yang kira-kira bisa gue capai tahun depan.

Tidak mungkin bisa memikirkan hal ini tanpa harus refleksi ke belakang dan tentu mikirin apa saja pencapaian yang sudah bisa gue capai sejak tahun lalu sampai tahun ini. Kenapa tahun lalu? Karena tahun-tahun sebelumnya gue selalu merasa kalau pergerakan 'Pencapaian' gue terlalu selow dan tidak begitu menyenangkan untuk diceritakan hehehe.

Jadi ada masa dalam hidup dimana gue mulai memikirkan banyak hal dan tentunya sudah lebih aware dengan masa depan. Mari kita jabarkan satu-satu biar kalian yang baca tidak bingung. LOL


  • Masa Kuliah

Bisa dikatakan ini adalah masa transisi. Masa dimana gue masih struggle dengan keuangan (ini sih sampai sekarang ya), tugas-tugas yang numpuk, organisasi kampus, pacaran (ecieh), trying so hard to fit in dengan pergaulan (suka insecure dengan penampilan dan tentu keuangan), masih mencari jati diri (ini juga masih sampai sekarang), dan juga merupakan waktu dimana gue masih berandai-andai gimana rasanya punya uang sendiri dan bisa belanja baju baru tiap bulan. 

Tapi harus gue akui, ini adalah masa-masa paling menyenangkan dan memusingkan. Bicara tentang pergaulan, masa kuliah menjadi sebuah masa dimana gue menikmati enaknya punya banyak teman, bisa tampil di depan umum bahkan menjadi MC. Dibandingkan dengan waktu masih SMA, i was a shy little girl with her books yang selalu insecure dan susah memulai pembicaraan yang menyenangkan bersama orang lain. Jangankan berbicara, mau senyum ke orang aja susah. 

Nah kok malah pusing padahal punya lingkungan yang baik dan teman yang menyenangkan? Yuppp, untuk bisa mencapai ke titik tersebut, tentu a stupid girl like me needed a lot of hard work. Dimulai dengan gabung organisasi ini itu dan harus berbicara dan menghadapi orang dengan kepribadian yang macam-macam plus harus deal dengan diri sendiri yang aslinya introvert bla bla bla (ini kayaknya harus dibuatkan tulisan lain).

Tau kan gimana nggak enaknya masa ospek, organisasi kampus pun punya caranya sendiri untuk mendidik newbie-newbie yang masih membawa sifat-sifat manjanya dari SMA. Pusing? Of course! Belum lagi jadwal kegiatan yang terkadang bentrok dengan kuliah dan kerja tugas. Oh dan jangan lupa drama-drama di dalamnya. Asli pusing!!

Nah pencapaian gue di masa ini adalah gue belajar untuk mengenal orang-orang dengan kepribadian mereka yang unik dan sadar betapa pentingnya relasi dan teman. Oya, disini juga gue akhirnya bisa menjadi seseorang yang berani berbicara dan bersosialisasi.

  • Masa Kerja di Toko Buku (masih sambil kuliah)
Tidak terlahir dari keluarga Sultan membuat gue harus mengalami yang namanya MISKIN. Meski kuliahnya dibiayain beasiswa (tipikal cewek-cewek miskin di drama korea), tapi ujian dan uang kos siapa yang biayain? Mau cari om-om tapi kurang cantik. Mau pacaran sama Go Jon Pyo tapi ini real life bukan drama. Solusinya ya harus kerja sambil kuliah. 

Gimana, udah kebayang belum gue pusingnya kayak apa. Kalau belum, sini gue jelasin lagi. Jadi gue kuliah pagi sampai siang, nongkrong dikit di organisasi, ikut rapat kalau ada ya, pulang ke kosan buat masak dan makan siang. Jam 3 sudah harus ke Mall. Bukan buat belanja ya, tapi buat kerja. Kerja sampai malam sekitar jam 11, kemudian kembali ke kosan buat kerjain skripsi sampe subuh. Besoknya gitu aja terus sampai lulus, nggak heran penampakan gue kayak mayat hidup.

Awalnya gue pikir kerja di toko buku itu menyenangkan karena bisa baca buku gratis. Ternyata oh ternyata, tidak semudah itu ferguso! Bayangkan 8 jam harus berdiri, istirahat cuma 30 menit, display buku dan angkat-angkat returan ke gudang. Belum lagi harus melayani customer dan sebisa mungkin menghapal semua buku biar gampang nyarinya. Oh dan buat kalian yang suka komplain di toko buku fucck yaa

Nah, di stage ini gue mulai belajar mandiri dan dengan sendirinya punya rasa malu untuk minta uang ke orang tua. Beli HP dan laptop pake uang sendiri (Oh semua hapeku sih pake uang sendiri ya #SOMBONG). Maksud gue tuh beli apa-apa pake uang dari kerja keras sendiri, bayar ujian, bayar print skripsian dll.  Seneng akhirnya bisa punya Smartphone kayak teman-teman lainnya (sebelumnya pake Blackberry dan Samsung tab). Waktu itu gue beli Sony, setelah berbulan-bulan liatin dia dari jauh wkwkwkkwk mahal sih! Walaupun akhirnya dicuri  sepaket sama laptop dan blackberrynya, disitu gue sadar bahwa barang-barang itu hanya titipan dan gue harus belajar ikhlas no matter what happen. 

Tapi bukan itu intinya, di masa ini gue belajar kerja keras, kurangin mengeluh dan banyakin bersyukur. Dan di masa ini juga pertama kali gue rasain enaknya bisa mencicipi sebuah 'Pencapaian' yaitu smartphone tadi, dimana gue harus lewat depan tokonya tiap hari dan bersabar nabung selama kurang lebih 3 bulan. Walaupun harus struggle karena masih sering suka iri sama orang lain, tapi yah itulah namanya proses!
  • Masa Kerja di perusahaan yang sekarang
Lulus kuliah, gue masiiiiiih aja kerja aja di toko buku. Disitu kadang suka iri dengan teman-teman yang kerja di bank atau perusahaan lainnya. Akhirnya ijazah mereka kepake. Paling gobloknya karena gue iri dengan mereka yang bisa melanjutkan pendidikan ke S2. I mean, sadar dong lo bukan anak Sultan! atau keirian goblok lainnya kalau liat instastory teman-teman yang jalan-jalan padahal masih pengangguran, duit darimana coba? wkwkwkkwk

If you know me, kalian pasti tahu gimana berambisinya gue buat lanjut sekolah lagi. Tapi bagaikan pungguk merindukan bulan, itu cuma sekedar angan-angan belaka. It won't happen. Apalagi harus dihadapkan pada realita dimana gue harus menyampingkan mimpi sendiri untuk membantu keuangan keluarga. 

It's Okay, i said to myself. We still can make it one day!

Pada suatu hari dapat tawaran dari atasan untuk dibiayi kuliah S2. Jujur itu masa tergalau yang pernah gue alami. Secara logika i need that help, tapi entah kenapa kebiasaan sok kuat dan tidak ingin menerima bantuan orang lain seakan lebih kuat. So i gave up that opportunity. Gue bilang sama diri gue sendiri, kalau mau kuliah pake uang sendiri jangan harapkan bantuan dari orang lain!

Selama kerja di perusahaan baru ini, bisa dibilang rejeki lumayan oke. Disini akhirnya gue bisa mencicipi pencapaian lainnya semisal bisa belanja baju baru di mall, ngetreat diri sendiri dengan makan makanan yang sedikit pricey, beli kosmetik ini itu bahkan jalan-jalan ke Bali. Tahun lalu juga gue akhirnya mencentang salah satu bucket list gue yaitu kamera! yayy! 

What now?

Bulan lalu, gue resmi bekerja 2 tahun di perusahaan ini. So what now? Pertanyaan ini tiba-tiba menyerang gue pagi-pagi tadi. Step selanjutnya apa? apakah selamanya gue akan kerja di perusahaan ini?apakah selamanya gue akan numpang di rumah orang? apakah selamanya gue akan di Makassar?

Semua pertanyaan yang gue sendiri nggak tahu jawabannya. Akhirnya sebelum kerja laporan, gue mencuri waktu untuk berdiskusi dengan diri sendiri dan menjawab pertanyaan ini.

The answer is....a year from now gue sudah harus punya pekerjaan di tempat lain, spesifiknya di kota lain! Kenapa? karena gue bosen dengan kota ini. Gue butuh suasana baru. Selain itu, gue merasa 2 tahun ini terlalu nyaman dengan keadaan gue padahal its not okay! semakin lo merasa nyaman, akan semakin susah buat berkembang. Yang ada bukannya grow malah die!

5 tahun dari sekarang, di usia 30 tahun (adek gue yang kuliah jg udah lulus) gue pengen punya pekerjaan di luar negeri dan gue kudu ngechallange diri sendiri dengan ini. Oya, dalam perjalanan menuju usia 30 itu, gue sudah harus bisa jalan-jalan sendiri ke Eropa, minimal sekali. 


Oya, sebelum mengakhiri tulisan nggak penting dan penuh angan-angan ini gue juga pengen bilang kalau Tuhan memberkati, tahun depan sudah harus bisa ke luar negeri kayak Thailand atau Vietnam gitu. Ini nggak muluk-muluk ya, biar gampang aja gitu diwujudinnya.

 

Yuk, tidak berbuat apa-apa!

Beberapa saat lalu saya membaca sebuah buku berjudul 'Berbuat Baik itu Mudah'. Kebetulan diluar sedang hujan deras dan Makassar dilanda banjir. Selain itu, jaringan wifi di kantor kami sedang tidak lancar. Salah satu alasan saya untuk menunda pekerjaan dan malah mondar-mandir penuh gelisah. Entah dorongan apa yang menghasut saya untuk membaca salah satu buku yang disimpan teman kantor di dalam loker arsip. Buku tipis yang sepertinya ditujukan untuk anak SD dengan sampul bergambar anime.

Jika menilai dari sampulnya, jelas saya tidak tertarik. Namun seperti pepatah 'Jangan menilai buku dari sampulnya', saya pun membuka buku tersebut dan mulai membaca daftar isi. Satu yang menggelitik, sebuah sub bab dengan tulisan 'Yuk, tidak berbuat apa-apa!'.

Apa-apaan! Buku macam apa yang mengajarkan pembacanya apalagi anak kecil untuk tidak berbuat apa-apa. Kemudian saya teringat buku Mark Manson 'Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat'. Sebuah bacaan aneh untuk generasi sekarang ini. Generasi yang terlalu memusingkan banyak hal dan sepertinya butuh asupan 'vitamin bodo amat' agar tidak terlindas jaman.

Setelah merenung beberapa saat, saya memutuskan untuk mulai membaca. Barulah saya ngeh, yang dimaksud dengan tidak berbuat apa-apa adalah bermeditasi. Menurut ajaran Budha, meditasi membantu kita untuk mengontrol pikiran yang merupakan sumber kebahagiaan dan penderitaan umat manusia. Tapi jangan salah, walaupun saya meluangkan waktu untuk membacanya sampai habis, saya tidak akan membahas meditasi ataupun agama di sini.

Tidak berbuat apa-apa, kedengarannya sangat mudah untuk dilakukan. Sejenak saya berpikir ini adalah salah satu keahlian saya -Tidak berbuat apa-apa-, toh memang saya pemalas kan. Apa susahnya.

Tapi, tidak berbuat apa-apa menurut buku ini bukanlah tidur-tiduran, bermain hape, nonton youtube, atau bermalas-malasan di kasur saat musim hujan. Melainkan, duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Tidak bermain hape, nonton ataupun berpikir macam-macam. So, you are literally doing nothing! Hanya duduk dan memusatkan pikiran pada suatu hal.

Singkatnya, meditasi! (tuh kan bahas meditasi, padahal tadi bilangnya tidak)

Saya teringat kejadian dua hari lalu. Hari minggu pukul 5 sore, akhirnya saya terpanggil ke gereja setelah beberapa bulan mencari hidayah dan diomeli keluarga hehehehe. Menurut saya bermain hape di dalam gereja adalah sebuah tindakan yang tidak sopan, dapat mengganggu ibadah orang lain dan tanda orang yang tidak tulus ibadahnya. Memang saya adalah Katolik musiman, alias ke gereja saat ada niat saja tapi saya juga sangat tidak mempercayai manfaat ke gereja kemudian bermain Hape. Paling lucu lagi ketika melihat beberapa umat yang masih saja memaksakan diri membuat instastory di tengah-tengah ibadah, plus hastag #happysunday bla bla bla. Rasanya pencitraan sekali. Beribadah adalah urusan pribadi dengan Tuhan, tidak perlu di upload sana sini bukan?

Tapi saya paham, setiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda. Mungkin saja itu adalah salah satu jenis ujian dari Tuhan, sampai saya pun diuji dengan prinsip tersebut. Rasanya sangat susah untuk tidak mengecek hape dalam kurun waktu beberapa menit. Seperti ada sebuah aturan dalam otak untuk menggerakkan tangan secara otomatis melihat apakah ada notifikasi baru, atau sekedar swipe kiri, swipe kanan. Walaupun saya tidak pernah memiliki keinginan untuk berfoto atau mengupload instastory saat beribadah, keinginan untuk setidaknya memberitahukan kepada dunia bahwa saya AKHIRNYA PERGI KE GEREJA, sangat sulit dihindari.

Saya sampai harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa sekarang saatnya beribadah, bukannya membalas pesan di WhatsApp, melihat story teman lain, atau hanya sekedar membuka-buka instagram yang rasanya tidak ada manfaatnya saat itu. Bersabarlah! Try to focus, Brain!

Tidak berbuat apa-apa sama halnya beribadah di gereja. Kita hanya perlu duduk manis dan fokus pada satu hal selama kurang lebih satu jam, yaitu beribadah. Kedengarannya sangat gampang bukan? Tapi tidak sesederhana itu. Akan ada begitu banyak distraksi yang membuat pikiran susah fokus, mengantuk misalnya atau memperhatikan penampilan orang lain.

So, siapa bilang tidak berbuat apa-apa itu mudah? Padahal banyak manfaatnya...

Nina Bobo M. Night Shyamalan di Film Glass

Review Film : Glass (2019)


M. Night Shyamalan kembali lagi dengan karyanya yang berjudul Glass. Salah satu film yang saya nantikan di 2019 setelah terkagum-kagum dengan Split yang rasanya baru kemarin saya tonton.

Menceritakan Elijah Price 'Glass', seorang Master Mind yang percaya tokoh superhero dalam komik benar-benar ada di dunia nyata dan tentu  dua superhero kita dari film sebelumnya Unbreakable dan Split. David Dunn (Bruce Willis) berperan sebagai jagoan super yang dalam film Unbreakable diceritakan berhasil selamat dari kecelakaan kereta. Lain cerita dengan Kevin (James McAvoy), pria dengan 24 kepribadian menyimpan sosok The Beast yang ia percaya sebagai superhero. Nyatanya adalah karakter antagonis yang bisa dengan gampang dimanipulasi.

Film dibuka dengan David yang sedang menyelidiki penculikan beberapa gadis remaja bersama putranya yang memiliki peran mirip dengan Jarvis untuk Iron Man. Sebelumnya David sudah menjadi selebriti di dunia maya dan dikenal sebagai pahlawan super. Tentu dengan kostum jas hujan yang aneh menurut saya. 

Pertemuan perdananya dengan The Beast jelas mengecewakan. Ah, mungkin adegan laganya disimpan untuk klimaks, begitu menurut saya. Sampai sejam kemudian saya dibuat bosan setengah mati dengan cerita masa kecil dan rahasia kelemahan masing-masing pemeran. Belum lagi teori-teori Dr. Ellie Stape (Sarah Paulson) tentang Delusions of Grandeur dan segala upaya yang ia lakukan untuk meyakinkan ketiganya bahwa kemampuan mereka hanya delusi semata. 

Ah, maaf... upaya yang saya maksud di sini hanya "khotbah", percakapan tidak perlu untuk mempengaruhi ketiga karakter dan orang terdekat mereka. Konyol, karena berpikir bisa mengalahkan Elijah si Master Mind dengan kecerdasan di atas rata-rata, meski Kevin dan David sempat dibuat percaya. Kotbah konyol yang masuk akal dan dikemas layaknya wawancara kerja di sebuah ruangan dengan cat berwarna pink.

Review film Glass

Sebagai pecinta film Split, jelas saya mengharapkan Glass menyamai kehebatan film horor psikologis ini. Sayang, harapan terlalu tinggi saya tidak dapat dipuaskan dengan alur yang bergerak lambat. Layaknya lagu nina bobo, saya dan setidaknya salah seorang penonton yang duduk di bangku sebelah beberapa kali mengeluh bahkan sempat tertidur dalam bioskop. Sebuah kejadian langka untuk film yang KATANYA tentang superhero yang berasal dari komik.

Mengharapkan keseruan konflik seperti Black Panther atau aksi seru The Avanger jelas akan dikecewakan di film ini. Penyelipan sedikit celetukan Hedwig merupakan angin segar dan berhasil mengundang tawa penonton. But, That's It!  Bahkan momen ketika Elijah Price berkata "First name Mr, last name Glass"  tidak dibangun dengan baik dan kehilangan kesan magis menggetarkan jiwa yang sangat diharapkan dari seorang Samuel L. Jackson.

Hanya dua yang menghibur menurut saya. Pertama, kemampuan akting James McAvoy setidaknya tidak membuat uang saya sia-sia. Berhasil memerankan Patricia, sosok wanita yang memegang kendali atas "Kawanan" 24 kepribadian Kevin termasuk The Beast. Memberikan tontonan yang menghibur ketika masing-masing kepribadian berusaha muncul ke permukaan. Sayangnya, agak sulit bagi saya yang saat itu sedang menahan kantuk untuk menebak setiap kepribadian selain Patricia, Hedwig dan Kevin sendiri. Kedua, keunikan cerita meski eksekusinya kurang menarik. Ah, mungkin harapan saya saja yang terlalu tinggi setelah memuja Split.

Well, tanpa perlu berlama-lama lagi, jelas saya tidak menonton dengan seksama karena terlalu sibuk menahan kantuk. Ending yang biasa pun tidak mampu menyelamatkan filmnya. Apalagi dengan janji partai 'Showdown', duel David dan The Beast di peresmian gedung tertinggi di dunia yang mati-matian dipersiapkan oleh Sang Master Mind. 

Meski demikian, jelas kita setuju bahwa  twist khas M. Night Shyamalan memberikan kejutan luar biasa. Pesan yang disampaikan dan tujuan utama Mr. Glass menjadi penutup yang memuaskan untuk trilogi ini. 

Mengejar Mimpi Sampai ke Mesir: Review Buku Sang Alkemis by Paulo Coelho

Sebuah buku filosofi yang ditulis seperti dongeng yang konon kabarnya mampu mengubah hidup pembacanya. 

Mengisahkan seorang pemuda bernama Santiago, Penggembala yang seumur hidupnya 'berpetualang' dari satu desa ke desa lainnya. Setiap malam si Santiago ini selalu mendapatkan mimpi yang sama yakni tentang harta karun yang tersembunyi di piramida-piramida Mesir.

Karena selalu dihantui mimpi yang sama, ia akhirnya mengunjungi seorang penafsir mimpi yang ternyata tidak mampu menafsirkan mimpinya. Hingga suatu hari si Penggembala bertemu seorang kakek yang mengaku sebagai Raja. Sang Kakek menyuruhnya untuk mengikuti mimpinya dan memulai petualangannya ke Mesir. Setelah menjual domba-dombanya, ia pun menggunakan uang hasil penjualanya untuk membeli tiket ke Afrika. Apakah Santiago berhasil mendapatkan harta karunnya setelah merelakan harta satu-satunya yakni domba-dombanya yang kemudian ditipu di negeri orang? Nanti gue tulisin spoilernya,hehehe



Ringan tapi berbobot adalah kesan pertama saya setelah menamatkan novel ini. Dengan menggunakan kisah petualangan yang sangat sederhana, pembaca diajak untuk memahami rahasia-rahasia alam semesta dan pergumulan batin manusia ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang sulit.

Untuk orang yang terbiasa membaca novel romance dan metropop, buku-buku karya Paulo Coelho adalah pilihan terakhir dalam list bacaan gue. Secara novelis idaman gue adalah AliaZalea dan tentu Christian Simamora yang terkesan santai dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Sementara untuk buku 'berat' seperti Sang Alkemis ini tergolong susah untuk dicernah otak gue yang tak seberapa ini. 

Awalnya beli novel ini karena pertama: Harga yang murah meriah karena lagi ada promo cashback, Kedua: Reputasi Penulis dan novelnya sendiri. So, selama kerja di Gramedia gue setiap kali ketemu pembeli yang mencari novel Paulo Coelho pasti mereka bilang Sang Alkemis adalah salah satu novel best seller dan berkesan banget buat mereka. Walaupun penasaran, jujur aja gue nggak ada niat sama sekali buat baca buku ini, sampai suatu hari alam semesta berkata lain.... hahaha

Singkat cerita, setelah iming-iming promo tempo hari, gue belilah buku ini hitung-hitung sebagai bacaan cadangan selama liburan natal dan tahun baru. Ternyata oh Ternyata, buku yang awalnya gue labeli 'berat' ini tidak serumit yang kalian bayangkan. Sebelumnya gue juga udah pernah membaca beberapa karya Paulo Coelho yang 'terpaksa' gue selesaikan yakni Selingkuh dan 11 Menit. Ada juga dua novelnya yang masih tersimpan rapih di rak buku saking beratnya buat gue selesaikan. Tapi tidak dengan Sang Alkemis. 

Penulis memberikan gaya yang berbeda seperti berdongeng lengkap dengan kata-kata bijak yang kemudian mengajak kita merenung. Sedikit spoiler ya, jadi si penggembala digambarkan sebagai seorang karakter yang berjiwa bebas dan tidak ingin terikat pada sesuatu. Sementara sisi lain di dirinya sebenarnya ingin 'menetap'. Karakter yang menggambarkan gue banget; memiliki 2 keinginan yang sebenarnya bertolak belakang di waktu yang sama. 

Kadang si penggembala bermimpi untuk memulai petualangannya dan melihat kota-kota lain di tempat yang jauh, tapi di saat yang bersamaan juga ia ingin menikah dan menetap bersama keluarga kecilnya. Sampai akhirnya dia bertemu seorang Kakek yang ternyata suka membantu dan mengompori orang lain untuk tidak menyerah dan mengejar mimpi mereka. Yah, agak kurang kerjaan juga ya si Kakek ini. Sang kakek juga sering memberikan wejangan-wejangan seperti:


 "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya" - Sang Raja

Dusta terbesar itu: Bahwa pada satu titik hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib" - Sang Raja


Disini penulis ingin menegaskan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah sebagian besar merupakan buah dari keputusan yang kita ambil. Ketika kita memutuskan untuk mengejar mimpi jangan pernah khawatir akan hasilnya, yakin saja maka semesta akan membantu. Setelah baca buku ini, gue kurang-kurangin deh menyalahkan keadaan hehehehe... Penulis juga ingin menyampaikan bahwa ada saatnya kita harus meninggalkan segala kenyamanan -get out of your comfort zone- dan memulai petualangan, merasakan pahitnya hidup.

Sampai di pertengahan buku, barulah gue sebagai pembaca yang suka penasaran mengenai 'arti judul' sebuah novel dibuat ngeh dan ber'Ooo' ria. Walaupun masih bingung juga sih kenapa judulnya Sang Alkemis karena cerita ini kan tentang si Penggembala yang mencari mimpi kemudian bertemu Sang Alkemis bukan tentang Sang Alkemisnya sendiri. Nanti setelah mencapai akhir halaman, gue pun menyimpulkan kalau ternyata si Penggembala akhirnya menjadi Seorang Alkemis juga karena mampu melakukan hal-hal ghoib macam Roy Kimochi. Sebut saja membaca pertanda-pertanda, mendapat anugerah penglihatan tentang masa depan dan menjadi seperti Avatar yang bisa berkomunikasi dengan Angin dan Padang Pasir.

Oya, ending bukunya bener-bener bikin geleng-geleng kepala. Nggak habis pikir. Dijamin bakal keselll deh habis baca buku ini, apalagi buat kalian yang malas mikir, KZL bangett dong disuguhi teka-teki permainan pikiran. 

PROS:
  • Full kata-kata bijak
  • Bisa ikutan bijak juga setelah baca buku ini
  • Harga terjangkau
  • Halaman tipis jadi enak buat yang malas baca dan bisa dibawa kemana aja apalagi kalau malas bawa buku yang berat banget
KONS:
  • Agak berat untuk dibaca anak SD
  • Nggak suka endingnya walaupun sebenarnya sangat menginspirasi (Maafkan hamba)


Dengan cerita yang sederhana, singkat, nggak tebal-tebal amat, Sang Alkemis adalah salah satu buku yang WAJIB BANGET kamu baca. Walaupun isinya sedikit 'berat' tapi pelajaran hidup yang didapatkan sangat bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Tinggalkan dululah novel romance dan teenlit remaja, yuk olahraga otak dulu dengan buku-buku Paulo Colheo ini, hehehehehehe.


Kepada yang Terhormat, Perusahaan yang Membuka Lowongan


Kepada Yth,
Bapak/Ibu Pimpinan 
Di Ruanganmu Masing-Masing


Salam Sejahtera bagimu dan perusahaanmu, semoga juga bagiku.

Mohon jangan salah sangka dulu, saya sedang tidak ingin melamar pekerjaan di perusahaan anda. Lebih tepatnya, saya hanya ingin mencari perhatian. Untuk apa? Tentu karena saya ingin mengajukan pertanyaan. 

Pertama, saya tidak mengerti alasan Bapak/Ibu menyertakan surat keterangan sehat jasmani dan rohani beserta SKCK sebagai salah satu persyaratan untuk bisa bekerja di kantor yang Bapak/Ibu pimpin. Asumsi saya, anda mungkin hanya sedang mempersulit kami para pencari kerja, atau mungkin karena anda ingin memberikan kesan 'serius' mengenai perusahaan anda. Betul juga, terlalu gampang masuk juga akan gampang keluar, rasanya 'murahan' ya? Saya setuju untuk yang satu ini. 

Tapi, tahukah Bapak/Ibu yang terhormat, mengurus SKCK dan surat keterangan sehat jasmani dan rohani bukan perkara gampang? Kami harus berdesak-desakan di kantor polisi dan rumah sakit hanya demi selembar kertas yang kemudian kadaluarsa 6 bulan kemudian. Coba bayangkan, kami harus melalui neraka ini setiap 6 bulan sekali demi bisa masuk ke perusahaan Bapak/Ibu.

Apa sih yang kalian ingin lihat dari 2 kertas ini?? Surat keterangan berbuat baik apakah menjamin bahwa kami 'Orang Baik'? Surat Keterangan Sehat apakah menjamin kami akan selalu sehat? 

Kalian tahu, beberapa dari kami sakit setelah mengurus 2 surat ini seharian. Menunggu antrian, berdesak-desakan, menahan lapar bahkan ada yang berselisih. Tapi sudahlah, itu hak Bapak/Ibu sekalian, saya hanya bertanya.

Kedua, ketika diterima kami harus bekerja dari pukul 07.00 pagi sampai 17.00, terkadang harus kerja sampai pukul 18.00. Padahal di kontrak kerjanya 8 jam. Bapak/Ibu pikir,kami tidak memiliki kehidupan lain? Sepanjang hari bekerja di kantor dengan istirahat 1 jam sudah termasuk jam makan dan ngopi, kami bahkan tidak punya waktu tidur siang. Apa kalian tidak tahu, bahwa tidur siang sangat bermanfaat untuk meningkatkan performa kerja karyawan?

Kemudian kalian akan mengeluarkan sebuah kalimat ajaib 'JANGAN PIKIR APA YANG PERUSAHAAN BERIKAN KEPADAMU, TAPI PIKIR APA YANG SUDAH KAMU BERIKAN UNTUK PERUSAHAAN'.

Coba Bapak/Ibu pikir kembali kalimat di atas yang merupakan bahasa lain dari 'LOYALITAS TANPA BATAS'. Sebuah kalimat yang memaksa karyawan untuk memeras waktu, tenaga dan pikiran selama bekerja dan masih harus diperas lagi dan lagi. Perusahaan semakin maju, karyawan semakin lesu. Kemudian hanya ada dua motivasi karyawan bekerja: Uang atau Tidak ada pilihan lain.

Lalu kemana koar-koar anda di media sosial untuk kesejahteraan karyawan?

Mohon maaf sebelumnya, saya tidak berniat memperkenalkan diri. Semoga menjadi bahan pertimbangan.

PS: I Like You



Hey, you!

apa kabarmu?

Terimakasih sudah hadir dalam hidupku yang membosankan. 

Cheesy ya?

Aku bahkan bingung harus memulai ini darimana, bagaimana, pakai bahasa apa?

Apa kata yang tepat untuk menyampaikannya? since i'm a girl.


Aku tidak pernah mahir memuji seseorang, tapi aku pernah membaca ini di sebuah buku :



"Sometimes you meet a person and you just click"

Jelas saja itu bukan pujian karena dirimu tidak bisa disederhanakan dalam beberapa kata saja.


Aku bahkan tidak mengerti seperti apa bertemu seseorang-a total stranger- lalu merasakan that click moment, sampai aku melihat kamu sore itu. 

Menyeruput kopi sambil memandang pegunungan yang jauh di sana. Duduk diam, sibuk dengan pikiranmu sendiri, bahkan tidak peduli seberapa ramainya orang lalu lalang di depan mu.

Lalu hari itu berlalu, senja yang tak pernah bertahan lama, kita pun begitu. Kupikir itu hanya sebuah takdir yang lucu dan tak pernah ada 'Kita', its just you and i.

Hey you, People said feelings fade, I think you'll be gone soon but i just can't get you off of my mind.


Melihatmu sekilas, mencuri pandang mencoba memikirkan isi kepalamu saat itu. Karena esoknya, momen ini hanya akan menjadi satu dari sekian yang mungkin tersimpan di memoriku.


Love is a funny thing, right?
Ah, is it love? Hahahaha...

Selucu itu sampai otakku bahkan tidak mengerti apa yang kurasakan. Tentu saja dia tidak mengerti.

Cinta itu untuk dirasakan tanpa harus dimengerti, bukan?

Hai, kamu... iya kamu! Alasanku lebih menikmati kopiku sore itu.


Untukmu, Lelaki yang Kutemui di Kedai Kopi




Sebuah catatan kecil yang ditulis pukul 3 dini hari



Untukmu, lelaki yang kutemui di kedai kopi

Sebelumnya aku bukanlah orang yang percaya dengan pertanda semesta. Pertanda yang sengaja ditinggalkan sang Empunya hidup agar kita menyadari Beliau masih memegang kendali. Sampai suatu sore di kota kecil itu. Kampung halaman ku, dan sepertinya juga kampung halamanmu -kampung halaman kita.

Bukanlah sebuah kebetulan, aku mendapat panggilan dari seorang teman untuk bertemu. Berburu wifi katanya kala itu. Kebetulan juga masih ada kerjaan yang harus diupload secepatnya, jadi aku mengiyakan ajakannya. Seperti yang kau tau, jaringan telekomunikasi di kampung kita sangat tidak bisa diharapkan. Perjalanan kurang lebih 30 menit ditempuh naik motor rasanya tidak semagis sore itu dengan harapan ‘perburuan wifi’ kami membuahkan hasil.

Aku menemui temanku yang saat itu sedang mengeluh dengan kecepatan wifi di café yang juga beberapa hari lalu kutempati bersantai. Menikmati sejuknya udara sore bulan Desember sambil memperhatikan pedagang kembang api dan calon pembelinya yang sedang menawar.

“Cari tempat lain saja” gerutunya sambil menyodorkan segelas es kopi yang sudah ia pesan tak lama setelah aku duduk di depannya. Ekspresi tak nyaman bercampur kesal membuatku penasaran, pasti ada yang salah dengan minumannya. Tanpa menunggu aba-aba ditambah rasa penasaran, langsung saja kuseruput  dan berujung penyesalan.

“Terlalu manis!” keluhku sambil memasang ekspresi yang sangat tidak fotogenic, disambung dengan anggukan kepalanya mengaminkan. Aku memang tidak suka kopi yang terlalu manis apalagi asam. 

Mungkin kau belum tau itu.

Akhirnya kami berdua memutuskan mencari café atau warung kopi terdekat, masih dengan tujuan awal ‘berburu wifi’. Keputusan yang membawaku ke kedai kecilmu yang hangat.
Berburu wifi di Letter el Cafe

Romantis dan nyaman, itu kesan pertamaku sesaat setelah menginjakkan kaki di kedai kopi yang tak jauh dari café sebelumnya.

Sembari sibuk memandangi keunikan hiasan dinding yang terbuat dari ranting kayu itu, kusempatkan diri pula memperhatikan wajah-wajah setiap pengunjungnya.

Tepat di sudut ruangan, kau berdiri dibalik meja barista dengan kaos hitam sederhana, karyawan disini rupanya. Tepat di belakangmu terpampang menu dari berbagai jenis kopi yang kalian tawarkan. Ditulis dengan kapur warna-warni. ‘Cukup unik’ pikirku sambil sesekali mencuri pandang kepadamu.
Temanku pun tak lagi mengeluh karena wifi yang ditawarkan kedaimu setidaknya lebih baik. Belum lagi kopi Toraja yang kau seduh untukku membuatku lupa pada dinginnya udara malam kota kecil ini.
Bukan, bukan jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin aku terlalu berhalusinasi jika menyebutnya ‘jatuh cinta’. Mungkin juga akan kau tertawakan jika bagiku perjumpaan kita lebih tepatnya tepatnya dejavu. Rasanya aku mengenalmu pernah melihatmu di suatu tempat bahkan berbagi cerita yang mengundang tawa kecilmu di suatu waktu di masa lalu.
romantis ya?


Tapi siapa? Dimana? Kapan?

Penjaga warnet tempatku dulu mendownload video kah, atau Anak SMA yang setiap paginya menaiki angkutan umum yang sama denganku ? Ah sudahlah… pikirku sambil menyeruput lagi kopi yang hampir dingin itu.

Tahukah kau, wahai lelaki yang kutemui di kedai kopi. Tanpa Lelah aku mengawasimu dengan sudut mataku. Sambil tersenyum kecil melihat ekspresi lucu di wajahmu saat berbicara dengan mereka yang hendak memesan, sembari memanggil kembali memori lama. Mungkin di dalamnya akan kutemukan dirimu atau mungkin jika beruntung…… akan kutemukan: Kita.

Tapi seperti kata pepatah :Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Memoriku enggan memberikan petunjuk. Semakin dipaksa semakin membuat pikiranku kusut, tapi entah apa yang membuat wajahmu, gerak gerikmu bahkan suaramu terdengar tidak asing bagiku. Apakah di kehidupan sebelumnya kita adalah dua sahabat karib?

Tahukah kamu, wahai lelaki yang kutemui di kedai kopi. Sekarang sudah pukul 03.09 dini hari ketika jari jemariku menari dengan lancarnya di keyboard laptop demi menuliskan memori tentangmu. Sebegitu takutnya aku akan kehilangan lagi kenangan tentangmu yang mungkin sebenarnya tidak pernah ada.

Tahukah kamu, wahai lelaki yang kutemui di kedai kopi. Sejak hari itu, secangkir kopi hitam buatanku di rumah setiap sore mengingatkanku padamu. Memanggil kembali rasa penasaran yang seolah menantang untuk dipuaskan.

Seperti yang kutuliskan di atas, pertemuan kita sore itu akhirnya membuatku percaya pada pertanda. Pertemuan yang disebut ‘kebetulan’. Bukanlah sebuah kebetulan temanku yang sebenarnya bisa ‘berburu wifi’ sendiri memanggilku sore itu. Bukan juga kebetulan café yang kami tempati menyajikan kopi ‘termanis’ dengan wifi terburuk. Bukan juga kebetulan kami memilih kedai kecilmu yang berada tak jauh dari tempat kami sebelumnya.
untukmu lelaki yang kutemui di kedai kopi


Wahai lelaki yang kutemui di kedai kopi, apakah kau percaya takdir? Tidakkah menurutmu semesta sedang bercanda denganku saat ini? Bagaimana bisa untuk seorang yang baru kutemui, kau seperti sudah lama ku akrabi?

Tidak.. ini masih belum bisa disebut cinta. Percayalah, cinta lebih rumit dari sekedar penasaran tentang orang asing. Ini hanya sebuah perasaan akrab dengan seseorang yang baru kau temui.
Ah, untuk apa juga kutuliskan semua ini, tanyaku pada diri sendiri. Tersenyum simpul sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari.  

Mungkin ini hanya catatan kecil untukmu, Lelaki yang kutemui di kedai Kopi. Melalui ini kuselipkan harapan dan doa agar suatu saat nanti aku bisa berkesempatan menikmati LAGI kopi di tempatku melihatmu kala itu, kopi hitam yang kau seduh untukku.


FOTO HANTU #OFFICELIFE

WARNING: tulisan ini mengandung unsur sindiran, makian, dan curahan hati! buat yang gampang baper jangan dibaca ya!

HAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAAAHAHAHAHAHAAAAAAAAA

TUNGGU YA KETAWA DULU... ADUH SORRY CAPSLOCKNYA KEPENCET.
(nyari tombol capslock)!!

pengen bicara kotor jadinya..haduhh!!!

Pernah nggak sih kalian berada di sebuah situasi dimana klean dapat teguran gara-gara masalah sepele? HAHAHAHA sumpah deh.

i should say pengalaman gue hari ini asli berkesan banget! gimana ceritanya sebuah foto...SEBUAH FOTO (aduh kepencet kan capslocknya) membuat heboh satu perusahaan! Gue dapat teguran dari dua atasan sekaligus gegara sebuah foto!!! i mean, seriously????????!!!! it's just a picture, dude!

Aduh bingung mulainya dari mana dah...

Jadi gini, beberapa hari lalu di sebuah sore nan suram akibat mendung, gue sempat update story di instagram. Secara gue sendirian aja nih di kantor, gue iseng dong videoin ruangan gue yang sepi biar semua orang tau. HAHAHAHA. Nah, tanpa sengaja di video gue itu kayaknya ada penampakan atau mungkin lebih tepatnya bayangan yang gue nggak tau itu apa. Gue kepo kan, terus gue puter  ulang tuh video sampe bosen dan screenshoot sana sini. Kalau diperhatikan baik-baik, di foto hasil screenshootan gue waktu itu ternyata ada bayangan cewek berambut panjang. KEBAYANG NGGAK TUH! Gue, cewek cantik nan lemah yang sendirian di kantor tau-tau dapat foto penampakan!!

fotonya gue sc dari akun pribadi @beatrixpotter883


Tapi kan gue orangnya selow .. tetap seloww...santaiii....pantaiii...mungkin aku butuh liburan syalalallalaa nggak mungkin! 

Ya intinya gue nggak nanggepin serius secara rumah yang gue tempati sekarang justru jauh lebih horor lagi dari hanya sekedar foto bayangan yang MUNGKIN ada karena pantulan cahaya atau efek kamera aja. Cuma selayaknya anak alay lainnya yang kelebihan hormon iseng, gue postinglah foto itu di story dan sekalian gue kirim juga nih di grup kantor. Seperti yang bisa kalian tebak, gue butuh audiens buat foto gue yang ini kan dan nggak ada maksud lain apalagi maksud jahat. i mean, apa sih tujuan jahat yang bisa dicapai hanya dengan bermodalkan foto bayangan??? #ketahuancerdasnya kalo kata mr.Ngehek mah...

Long story short, foto itu berlalu tanpa mendapatkan audiens. Hmmm fotoku yang malang akhirnya disimpulkan sebagai 'efek kamera' atau 'efek cahaya' bla bla bla dan bukan penampakan, which is gue setuju! Kemudian di suatu Senin pagi ketenangan gue terusik dengan sebuah telepon dari atasan. Dimana gue disibukkan dengan rutinitas kehidupan kantor layaknya para pemburu dollar lainnya, gue was was dong, kira-kira kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh karyawan teladan sepertiku sampai-sampai atasan menelepon langsung di nomor pribadi bukannya ke telepon kantor.

Masih dengan penuh pertanyaan, gue angkatlah teleponnya dan seperti yang bisa kalian tebak -gue dapat teguran gara-gara foto hantu yang waktu itu di story- i was like Annjjjjjjjjjjj....!!!! kok bisa? it's not a big deal, i mean it was a joke! kalopun emang iya itu penampakan ya udah, santai aja...toh semua tempat juga ada penunggunya kan, ngapain dipermasalahin gitu loh.

Mungkin oknum yang mempermasalahkan  tidak seloww,...tetap seloww....santaii.. mereka butuh liburan.

Ternyata usut punya usut ternyata ada nih oknum yang melaporkan (lebbay) perihal foto gue itu. Selain telepon yang pertama, sekitar jam 2 atau jam 3 tadi bos yang satunya lagi telpon dan membahas hal yang sama. So, gue ditegur oleh dua atasan sekaligus gara-gara sebuah foto!! Harusnya gue bangga dengan pencapaian ini hahahahhaa, udah rusak kali otak gue yakkk.

Mungkin nggak perlu gue jabarkan semua ceramah yang gue terima dengan lapang dada tadi karena intinya ya itu, instastory gue dipermahasalahkan 'kenapa update-update status seperti itu' dan bla bla bla. Awalnya gue juga nggak ngerti poin utama yang dipermasalahkan disini, secara gue update status itu toh tujuannya buat becanda, it was a f*ckin joke! tapi ya kita kan emang hidup di negara yang tingkat kesensitifannya sangat tinggi, apa apa dipermasalahin, becanda dikit ada yang tersinggung, update status ini itu salah, padahal kan itu media sosial pribadi, mungkin orang-orang ini kurang ngopi kali ya. Toh gue juga bukan public figure yang harus menjaga tindak tanduk sana sini. Itu kan akun pribadi, so terserah gue dong mau posting apa di akun gue, secara gue juga nggak pernah ngusik akun orang lain.

Singkat cerita, selain instastory gue, yang jadi pokok masalah disini adalah karena ada seorang atau dua orang atau tiga orang (gue juga nggak tau, dan nggak mau tau) yang 'ketakutan' (ini kata-kata bos gue loh ya) akibat foto yang gue share itu. Lebih tepatnya gini "saya harus cari orang untuk temani dia karena dia ketakutan". Gue mikir dong, apa iya orang bisa bereaksi seperti itu. Mungkin gue salah kalau menurut gue orang ini sedikit over reacted, karena seperti kata bos gue, cara orang bereaksi terhadap sesuatu itu beda-beda. Mungkin buat kita itu cuman becanda, tapi buat orang lain belum tentu. Jadi kita nggak bisa menyamakan semua orang. 

Nah, mungkin kalian mikir ini gue ngapain curhat di sini sih untuk hal yang sepertinya receh banget. Tenang, semua tulisan gue yang walaupun random pasti ada hikmahnya kok. So, setelah gue dapat teguran tadi gue merenung dong ya, sok-sok cari ilham (nggak tau dia kemana) dan berusaha introspeksi diri. 

Gue melihat masalah ini dari dua sudut pandang, pertama dari sudut pandang gue sebagai 'pelaku' dan dari sudut pandang si 'korban'.

Kita bahas dari sudut pandang si korban dulu ya yang katanya...katanya loh yah... KETAKUTAN akibat foto ini. Sorry to say, gue nggak ngerti dengan posisi si orang ini. Kalau ternyata foto ini memberikan dampak yang luar biasa, gue minta maaf. Dan seperti pertanyaan bos gue, gimana kalau yang ada di posisi doi tuh gue, ya gimana ya... gue tinggal di rumah keluarga yang gede dan sangat hemat listrik kayak di film-film horor. Belum lagi penunggu-penunggunya yang bukan hanya mitos atau pergunjingan belaka, karena semua orang yang pernah tinggal di rumah itu sudah pernah melihat sosok yang kita sebut penjaga ini. Ketakutan? of courselah, tapi bukan berarti gue harus bersikap berlebihan apalagi keluar dari rumah itu dengan alasan yang cheesy. Tapi yah gitu, cara orang bereaksi terhadap sesuatu kan beda-beda. Mungkin buat gue itu hal yang biasa tapi buat doi itu sesuatu yang berlebihan and i'm sorry for that. Sama halnya ketika kita mengomentari orang lain 'kamu gendutan ya' 'jerawatmu kok tambah parah' 'kulitmu makin hari makin hitam padahal sudah perawatan' and bla bla bla...  mungkin buat kita itu hanya celetukan iseng tapi menyakitkan.

Satu yang sangat disayangkan adalah kalau doi nggak suka dengan kelakuan gue yang absurd itu, you have to talk to me face to face, jangan main bilang ke atasan dong!

Jujur aja, gue bukan orang yang peka terhadap perasaan orang lain atau bisa menganalisis kepribadian orang. Akibatnya gue nggak bisa bedain mana yang bisa diajak becanda, dan mana orang yang terlalu serius karena kurang ngopi dan nggak bisa main-main. Selama gue anggap kalian temen, ya artinya bisa gue becandain.

Dari sudut pandang gue, ini hanya candaan, atau ingin mencari sensasi  dan seperti yang gue tulis di atas foto gue ini butuh audiens. Gue pun yakin if you got what i got, kalian pasti langsung share di medsos atau langsung DM Ewing HD biar masuk di video malam jumatnya (ngomong-ngomong, gue lagi mempertimbangkan buat kirim ke Ewing HD nih fotonya, kali aja bisa membuat heboh satu Indonesia trus gue dipecat deh wkwkwkwkwkkk).

Nggak ada niat jahat kok, cius deh!! Bahkan sampai gue nulis ini pun, masih nggak ngerti apa yang dipermasalahkan. Kalaupun ada orang yang ketakutan akibat foto ini, well sorry to  say there must be something wrong with your brain. Dari peristiwa ini gue paham satu quote bijak 'life is 10% what happens to you and 90% of how you react to it'. Buat gue ini hanya sebuah foto, but for other people who see it, it must be something WOW that scared them to death. Jadi kalau ada yang perlu diperbaiki disini, it is not me who took that picture, but it is you who see and react to it! 

Segitu aja ya curhatannya, terimakasih sudah membuang-buang waktumu di sini. Adapun kesamaan cerita itu mungkin saja disengaja. So kurang-kurangin lebbaynya, peace love and ngopiiiii...!!!!


TANYA DALAM MENDUNG



Sore ini, aku menatap langit yang tidak lagi cerah, gelap, suram hampir berkabut.
Sejenak mengingatkanku pada film kesukaanku, kesukaan kita.

Kita... sejenak aku tersenyum...
Aku seharusnya sudah beranjak dari kata ini dari dulu,
Tapi mendung membawamu kembali dalam ingatan.

Apa yang terjadi dengan 'kita' sekarang?
Apa kabar kamu?
Apa kabar juga kata-kata yang akhirnya menyusun cerita dalam setiap pesan yang kau kirimkan, dalam setiap percakapan hingga larut malam, dan dalam senyum di setiap pertemuan?
Ah, betul juga.... seperti katamu waktu itu, semua hanya bom waktu

Seolah akhir dari semua ini terlalu jelas untuk diabaikan.
Seolah sulaman memori hanya untuk mengisi waktu luang sambil menunggu.
Memaksakan sebuah cerita, mencoba-coba menebak alur.
Bukankah kita hanya saling menipu diri sendiri?

Apa kabar mimpi-mimpimu sekarang?
Apa kabar sayap-sayapmu yang dulu katamu kukekang?
Sudahkah kau terbang setinggi kata-katamu dulu?
Ah kepada siapa aku bertanya?
Mungkin diriku sendiri, mungkin juga kepada ingatan, atau kepada hujan yang tak kunjung turun.

MENDUNG
kenapa hujan tak turun saja?
tanyaku pada angin yang hanya sekedar lewat.

kenapa hujan tak turun saja?
Menggemuruh bersama langit yang menggelap
Agar tanah tidak mendengar dukaku
Agar rintik hujan sembunyikan lukaku.

Kenapa hujan tak turun saja?
Membungkam tangis, melenyapkan kebisingan dan teriak kesepian.
Hingga yang tersisa hanya dedaunan yang basah, seperti sepasang mata sembab yang memaksakan kata ikhlas.



APA ITU SUKSES?

Apa itu sukses? tiba-tiba pertanyaan ini muncul ketika gue sedang asyk membaca blog yang sharing tentang keberhasilan dan kiat-kiat sukses  sampai keterima bekerja di Bank Indonesia. Maklum lagi pengen juga mencoba peruntungan.

Well, satu lagi malam yang gue lalui dengan segudang pemikiran absurd. GUE GALAU. LAGI. Trus nulis ini deh, daripada tulis-tulis status di facebook or instastory pake quote-quote sok bijak di google ye kann....

Sumber kegalauan gue kali ini tak lain dan tak bukan adalah satu kata yang biasa kita gunakan untuk melabeli orang-orang di sekitar kita dan cukup meresahkan warga. SUKSES. Yapp, apa itu sukses? Ketika mencapai tahap apa, orang bisa disebut sukses? Sukses itu rasanya seperti apa? Apa yang harus gue lakukan agar bisa dikategorikan sebagai salah satu orang sukses? 

Tentu sukses adalah label. Banyak uang juga disebut sukses. "Wah dia sudah punya banyak uang, sudah sukses dia sekarang". 

Diterima bekerja di perusahaan besar juga disebut sukses; "Itu loh anaknya Bu Anu, sudah sukses dia sekarang, kerja di bank". 

Sampai yang paling konyol "Si Doi sudah sukses ya sekarang, di instagram suka update story jalan-jalan". Biasa nih penyakitnya ibu-ibu yang bikin anaknya males pulang kampung. Kita melabeli orang-orang yang dianugerahi 'hidup enak' dengan kata sukses. Mereka sukses karena mereka banyak uang, punya kerjaan keren, jabatan oke, punya pacar atau menikah dengan orang kaya atau orang sukses lainnya, lulus sekolah dengan nilai memuaskan, hidup hedon dan foya-foya, intinya mereka 'TERLIHAT' memiliki hidup yang lebih baik dari kita. 

Sampai sekarang standar dan kategori sukses menurut gue masih sangat absurd, dan suka berubah-ubah tergantung siapa yang melihat dan siapa yang dilihat. Bisa dibilang gue orang yang paling jaraangg melabeli orang lain 'sukses', apa karena gue terlalu berpikiran negatif? Semisal sepupu gue tau-tau bekerja di perusahaan tambang, cek per cek pake orang dalam, apa itu bisa dikategorikan sukses? atau cerita lainnya dari temen gue yang juga kerja di salah satu perusahaan besar, yang ternyata setelah lulus langsung dapat jabatan (tanpa tes psikologi umum, tanpa tes kepribadian bla bla bla) untuk menggantikan posisi orang tuanya yang mau pensiun. Ya mereka itu seperti mendapatkan sesuatu dengan sangat gampang.

Ada sebuah cerita dimana gue sedang duduk dan bergosip dengan beberapa teman suatu sore. Bahan gosip kala itu adalah salah satu teman seangkatan kami yang sekarang tinggal di ibu kota. Menurut mereka, doi udah bisa dikategorikan sukses sebagai 'anak jakarte' yang gaul dengan selera fashion oke dan tentu feed instagram keren yang diambil dari satu cafe ke cafe lain. Apalagi dibandingkan dengan kami yang masih tinggal di Makassar, kita beda kasta mah kalo kata Awkarin!

Cerita lainnya tentang salah satu teman yang akhirnya bisa bekerja di perusahaan yang selama ini dia idamkan. Gaji oke, penampilan oke, story instagram sudah seperti AnyaGeraldine dengan gaya hidup hedon yang membuat para netizen bertanya-tanya sebenarnya gaji dia berapa. Dia memenuhi standar sukses menurut kami kala itu. O iya, ada lagi teman semasa SMP yang walaupun sekarang masih pengangguran tapi karena lulus dari universitas ternama, doi disebut sukses. 

Menurut Zig Ziglar, sukses adalah mampu mendapatkan banyak hal yang bisa dibeli oleh uang, dan semua hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Warren Buffet sendiri mendefenisikan sukses bukan dengan tolak ukur materi, tetapi apakah orang-orang di sekitar kita bahagia dan mencintai kita. Sukses bagi para petani adalah panen yang melimpah, sukses bagi pelajar adalah lulus ujian dengan nilai yang memuaskan (walaupun hasil contekan -_-), sukses bagi karyawan adalah mencapai jabatan tertentu dalam perusahaan. Sementara untuk kpoper berjiwa labil, sukses adalah bisa nonton konser bias, jangankan mimpi pacaran sama idolanya, dinotis aja udah seneng minta ampun. So, defenisi tiap orang pasti berbeda, karena tujuan kita juga berbeda, lingkungan kita juga berbeda.

Ngomongin soal lingkungan, menurut gue lingkungan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pemberian label 'sukses' itu sendiri. Contohnya, orang yang tinggal di desa yang pekerjaan sehari-harinya adalah bertani, tentu ketika melihat pegawai kantoran pasti akan menyebutnya sukses, padahal bisa dibilang penghasilan si petani dalam setahun justru lebih banyak setelah panen ketimbang gaji si pegawai kantoran yang hanya UMR. Hal yang membedakan hanya penampilan, yang satu berpakaian rapi sementara yang lain berpakaian seadanya, ya karena nggak mungkin kan pake blazer ke sawah.

Kemudian pegawai kantoran lainnya yang tinggal di kota, akan dinilai lebih sukses dibanding pegawai kantoran tadi yang tinggal di desa, padahal gaji bulanan mereka sama-sama UMR. Hal yang membedakan keduanya hanya lingkungan, dimana si pegawai yang tinggal di kota isi instastorynya adalah nongkrong di cafe mahal, makan ya minimal di Mekdi, walaupun ujung-ujungnya pulang ke kosan siram indomie, yang penting story aja dulu. Sementara dengan penghasilan yang sama, si pegawai yang tinggal di desa, syukur-syukur kalau bisa upload story di tempat makan karena pasti lebih memilih untuk makan di rumah saja. Mirisnya, label 'SUKSES' ini justru sangat mempengaruhi kondisi psikologis kita (maaf nih, agak lebay) karena membuat kita merasa tidak percaya diri, bahkan dihakimi oleh orang-orang di sekitar kita. 

Kalau sekarang gue bertanya ke diri sendiri, defenisi sukses menurut gue adalah bisa diterima bekerja di perusahaan dengan jenjang karir yang oke, mau ini itu tidak merepotkan orang tua dan menyusahkan orang lain, mandiri, dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bahagia dari sebelumnya.Walaupun secara terang-terangan orang tua pengennya gue jadi PNS, dan yah standar sukses menurut orang tua gue ya jadi PNS atau paling nggak punya suami PNS. hahahahhahaa

Apakah sekarang gue sukses? Dengan sok dan penuh kesombongan, gue bakal bilang 'IYA'. HAHAHAHAHAHA....Kenapa? karena sekarang gue adalah seorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya (masih dalam tahap pembelajaran sih), dan tentu karena kemurahan Tuhan sekarang hidup gue bisa dikategorikan 'hampir nyaman' hahahahhaa ... Setidaknya sekarang gue bisa beli skincare pake uang sendiri, beli novel walaupun hanya untuk ditumpuk, dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Walaupun kategori sukses menurut Zig Ziglar yakni mampu membeli banyak hal masih belum bisa gue capai, setidaknya gue masih bisa menikmati beberapa hal yang TIDAK bisa dibeli oleh uang seperti teman yang menyenangkan, seorang ibu yang penyayang, dan pekerjaan yang walaupun banyak tekanannya, sangat-sangat gue nikmati. Itu adalah hal yang perlu gue syukuri. 

So, menurut lo apa itu sukses?

Diculik ke Kedai Kopi Ternikmat Sedunia, Ghitari Coffee Plantation!

Githari Coffee Plantation



Jadi selama liburan gue di Toraja, gue sempat diculik. Nggak... nggak... yang nyulik bukan om-om berkumis menyeramkan dengan jaket kulit kotor pake mobil hartop ya... justru gue diculik oleh dua cewek pewaris tanah berhektar-hektar di Toraja (ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan cerita mohon diaminkan saja ya). 

Jadi cerita penculikannya gini:

Galau dengan jadwal libur yang sedikit, gue memutuskan untuk mengisi liburan dengan perawatan gigi for the first time in forever kayak lagunya si itu. Seumur-umur gue nggak pernah ke dokter gigi, tapi pernah jadi kelinci percobaan sepupu gue yang waktu itu kuliah kedokteran gigi dan sedang mencari korban. Anyway, setelah menghitung uang receh yang ada di dompet, jadilah gue memutuskan untuk cabut gigi di salah satu klinik milik mamanya si tersangka penculikan. Setelah menjalani serangkaian 'siksaan' yang membuat gue akhirnya trauma ke dokter gigi, dua tersangka ini malah mengambil kesempatan. Gue pun diculik alias ditarik paksa buat mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat. Ya kali gue seneng, yang ada bad mood gegara gigi nyilu!

Niatan awalnya adalah mengunjungi tempat wisata bernama kolam assa, tapi sialnya harapan untuk melihat air kolam yang konon memiliki 3 warna itu sirna seketika. KOLAMNYA KERING, PAK!! sial...sial...mungkin kedua penculik ini membawa peruntungan buruk. 

Setelah menggalau sekitar 5 menit, akhirnya salah satu dari mereka mencetuskan ide yang awalnya menurut gue sangat buang-buang waktu: Liat kebun kopi, men! Gila aja kali. Bertahun-tahun tinggal di Toraja, pohon kopi tumbuh bebas di samping rumah cuy, dan sekarang nyari tempat wisata yang keren eh malah 'Liat Kebun Kopi'???? Oke, masih gue liatin... gue masih sabar karena emang gue aslinya baik! Dengan penuh kesopanan gue bertanya dalam bahasa Toraja"Ladipatumbara tu kebun kopi?" yang artinya "Sianying ngapain liat kebun kopi???". 

"Disana bisa lihat mesin pembuat kopi dan kereta-kereta jaman penjajahan" celetuk Dian, adek gue yang saat itu bertugas sebagai tukang ojek dan tour guide tidak profesional. Dari informasi singkat ini, gue mulai penasaran, bukan dengan mesin pembuat kopinya tapi dengan kereta jaman penjajahan yang kalau dipikir-pikir kayaknya mustahil. 

Setelah perdebatan singkat mengenai 'apa yang bisa dilihat' dan rute esktrim yang akan dilewati, kami pun berangkat tidak dengan sebuah lagu tapi beberapa minuman okky jelly drink penunda lapar. 

Rute yang dilalui nggak bisa dibilang mudah, nggak juga dibilang ekstrim. Tapi karena kesananya naik motor butut, ya jelaslah jantung gue rada nggak tenang dengan tanjakan ekstrim banyak belokan tanpa rambu lalu lintas. Si Dian sempat bilang, "disini motor nggak bisa napas", lah emang motor sejak kapan bisa napas? Pesan moralnya gini : sekali memulai mendaki, pantang berhenti ditengah jalan, bisa celaka!

Setelah kurang lebih 45 menit di perjalanan, sampailah kami di tempat yang dituju. Well, jangan kalian pikir turun dari motor langsung dapat pondokannya trus selfie cantik, Hah! Ngimpi. Ada aturan untuk parkir motor di tempat 'khusus': Parkir motornya di kuburan, cuk! karena dalam perjalanan udah niatan banget nggak banyak omong, gue nggak komplain. Talk less, enjoying more! kurang lebihnya kayak gitu. Dari parkiran 'khusus' tadi, kami masih harus berjalan kaki sekitar 15 meter, ya biasa aja sih. Yang nggak biasa adalah toilet yang 'aneh'nya keren bangettt.

Diculik ke Kedai Kopi Ternikmat Sedunia, Ghitari Coffee Plantation!
Toiletnya ada di sebelah kiri, fotonya nggak sengaja terhapus jadi posting yang ini aja hehehe..

Puas berfoto di toilet ala cewek-cewek manja, sampailah kami di 'kebun kopi' Githari Coffee Plantation, salah satu perkebunan kopi Arabica yang berlokasi di Kaero, Sangalla', Kabupaten Tana Toraja. Lumayan jauh dari Rantepao dan Makale. Gue pengen banget bilang ini adalah hidden paradise. Bagaimana tidak, dari orok gue tinggal di Toraja, baru pertama kali gue nemu tempat sekeren dan senyaman ini. Nggak seharusnya seheran ini yah, secara di kampung halaman sendiri. Tapi tidak, gue teteupp amazed dengan tempat ini. Thanks to duo maya(manis dan tidak kaya) yang menculik gue hari itu.


Ghitari Coffee Plantation

Diculik ke Kedai Kopi Ternikmat Sedunia, Ghitari Coffee Plantation!

Diculik ke Kedai Kopi Ternikmat Sedunia, Ghitari Coffee Plantation!


Awalnya gue pikir disini cuman ada pohon-pohon kopi, ya secara kan namanya kebun kopi, tapi tidak... gue salah besar! Hal yang bikin gue bengong adalah pondokan-pondokan lucunya yang bersih banget, nggak kayak tempat wisata lainnya yang udah kayak TPA. Wisatawan emang suka kurang ajar. Penganut aliran Give and Take. Mereka Take gambarnya, trus give sampahnya.

Lanjuttt.... Kekaguman gue nggak berhenti hanya pada cafe dengan konsep outdoornya, tapi dengan pemandangan luar biasa keren yang bisa kalian nikmati. Kebun kopi yang hijau (maaf ini saya bingung kebun kopinya dimana, masih kurang mengeksplor soalnya), pegunungan yang indah, langit mendung yang sendu dan tentu secangkir kopi hangat ditemani ubi goreng, sejenak pikiranku melayang ke kamu... iya kamu.. yang sore itu membuatku memandang senja dengan cara yang berbeda. eakkkkk!
Ghitari Coffee Plantation


Ghitari Coffee Plantation


Sejenak jiwa alay gue terbangun hanya dengan aroma secangkir kopi dengan rasa khas yang nikmat membuat gue lupa dengan sebuah kisah cinta bertepuk sebelah tangan...BWAHAHAHHA Gilak!! enakk bangettttttt kopinnyaaaaaaa.......pake bangettt bangettt bangettttt. Nggak tau deh, ini efek capek atau emang rasa kopi di Ghitari Coffee Plantation ini asli enak. Gue sampe menyesal nggak pesan satu poci! Niatnya sih pengen pesen lagi, tapi setelah mengkalkulasi lama pembuatan kopinya, hmmm nggak jadi! Maybe next time ya.

Di tempat ini, proses pembuatan kopinya emang lama. Gimana nggak lama, ternyata kopinya nggak pake kopi instant tapi dari biji kopi pilihan yang dipetik langsung dari pohonnya...hahahaha Ya gue nggak tau gimana nulisnya, tapi dari hasil observasi kami..ceileh..kayaknya nih kopi yang disuguhkan disana masih harus melalui proses diba'te dan dilambuk kalau kata orang Toraja, alias disangrai lalu dihaluskan, dan itu lamaa banget bisa sampe sejam! Masih bisa selfie 500 foto deh pokoknya.

Tapi yang paling paling gue suka adalah harga kopi dan makanan disini sangat sangat terjangkau kantong gembel kayak kami-kami ini. Secangkir kopi hitam dibandrol dengan harga Rp 13.000 SAJA!!! Murah meriah bangs*ttt!

If you know me, kalian pasti tau gimana cintanya gue sama kopi. Gue bakal dengan suka rela nyobain sekian banyak rasa kopi yang bisa gue dapetin. Laci meja kantor nggak mungkin sepi dari berbagai merk kopi instant dan ritual pagi favorit gue adalah ngopi sambil kepoin orang di instagram.  Oya, kemarin sempat terpesona dengan kopi Palu (i'll write about it later). Gue bukan cuma cinta tapi kecanduan, Kopi adalah obat migrane paling ampuh! Gue nggak bisa hidup tanpa kopi.  Gue sayang kopi! Coffee is my ecstasy! Titik! dan Githari Coffee Plantation ini adalah pilihan tepat buat kalian yang ingin menikmati kopi enak di tempat yang keren tentu dengan harga yang murah! Nggak cuma itu, kalian bisa sekalian wisata alam, menikmati senja, dan tentunya take selfie sampe kalian bosen liat muka sendiri!

Gimana, jadi pengen diculik juga kan? Gue pengen posting foto penculiknya, tapi nanti klean takut duluan WAHAHAHA ....Oya, hampir lupa Owner dari Ghitari ini baik bangett, mau mau aja dia ngobrol sama rakyat jelata seperti kami Wkwkkwkwk...Sehat terus ya,Pak, kemarin sempat lupa tanya kenapa pake nama 'Ghitari'. Semoga bisa kesana lagi, dan si bapak bisa ketemu orang yang ngaku-ngaku anak kuliahan, padahal..... ah sudahlah, tulisan ini jadi kepanjangan!

Githari Coffee Plantation, passwordnya kopi nikmat, nggak bikin kembung!
Nih, gue kasih bonus 2 foto plus foto kereta yang sempat bikin gue penasaran:



Ghitari Coffee Plantation
ada Githari Lounge juga loh!!
Ghitari Coffee Plantation

Ghitari Coffee Plantation
ini loh yang katanya kereta kencana Raja!!!